Rabu, 22 Juni 2011

Kemajuan Sains dan Teknologi Pada Masa Kekhilafahan Islam

Menelusuri sejarah peradaban kaum Muslim sama artinya dengan membuka kembali lembaran-lembaran sejarah yang menggambarkan kemajuan yang pernah diperoleh oleh generasi kaum Muslim terdahulu. Zaman keemasan kaum Muslim saat itu dikenal dengan sebutan The Golden Age. Pada saat itu, kaum Muslim berhasil mencapai puncak kejayaan sains dan ilmu pengetahuan yang memberikan kemaslahatan yang amat besar bagi peradaban umat manusia pada umumnya.
 

Pada masa itu, berbagai cabang sains dan teknologi lahir. Sains dan teknologi yang telah diletakkan dasar-dasarnya oleh peradaban-peradaban sebelum Islam mampu digali, dijaga, dikembangkan, dan dijabarkan, secara sederhana oleh kaum Muslim. Sains dan teknologi tersebut kemudian diwariskan kepada generasi dan peradaban modern serta turut memberikan andil yang amat besar bagi proses kebangkitan kembali (renaissance) bangsa-bangsa Eropa.
 

Khalid bin Walid

Khalid ibn al-Walid (584 - 642), atau sering disingkat Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai "pedang Allah yang terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya.

Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Thariq bin Ziyad

Tariq bin Ziyad, dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.

Pada tanggal 29 April 711, pasukan tariq mendarat di Gibraltar (nama gibraltar berasal dari bahasa Arab, Jabal Tariq yang artinya gunung Tariq). Setelah pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berbicara di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka.

Di awal penaklukan ini, Ia berhasil mengalahkan pasukan Raja Roderic dalam sebuah pertempuran efektif selama 8 hari,sangat singkat untuk penaklukan sebuah wilayah. Pertempuran itulah yang telah membawa kemenangan gemilang dan membuka pintu gerbang kejayaan Islam untuk masa waktu delapan abad lamanya.

Salahuddin Al Ayubi

Di dunia Barat, Salahuddin al-Ayyubi dikenal de ngan nama Saladin. Dia salah satu tokoh Islam yang disegani kawan dan lawan. Setelah Umar bin Khattab, Salahuddin adalah orang yang dapat merebut Yerusalem. 

Salahuddin al-Ayyubi lahir di Tikrit, Irak, pada 1138 Masehi. Ayahnya, Amir Najmudin al-Ayyubi, adalah keturunan suku Kurdi yang menjadi pejabat di Tikrit. Tak lama setelah kelahiran Salahuddin, keluarganya pindah ke Aleppo, Suriah, tempat ayahnya menjadi bawahan langsung Gubernur Nuruddin Zangi bin Aq Sonqur. 

Salahuddin tumbuh dan besar di Balbek dan Damaskus di bawah didikan ayah dan pamannya, Asaduddin Shirkhu. Sejak kecil, Salahuddin bisa menjawab dengan baik pertanyaan geometri, astronomi, aritmatika, dan hukum sebaik ia memahami Al-Quran. Dia mempelajari teologi Islam Sunni selama 10 tahun. Meski lebih menyukai pelajaran agama, Salahuddin mengikuti pendidikan militer.